Tari Maler Bedug, merupakan tari rampak bedug dengan sajian garapan baru yang dikembangkan dari keberagaman musik tradisi Khas Banten dengan mengambil pijakan gerak dari bedug Pamarayan dan Silat Trumbu.
Tari sekapur sirih biasa ditarikan 10 sampai 12 penari. Diantara para penari ini biasanya terdapat dua penari laki-laki yang berposisi di belakang. penari membawa sebuah wadah yang berisi sirih sebagai tanda kehormatan kepada para tamu penting yang datang di satu acara perhelatan besar yang sedang digelar masyarakat Belitung.
Tari Baliore adalah salah satu tari dari daerah Sulawesi Tengah. Tarian Baliore menggambarkan kelincahan gadis gadis Sulawesi Tengah yang bergembira saat pesta panen tiba. Mereka menari-nari dengan lincahnya. Hentakan ritmis tetabuhan, terutama gendang semakin menambah dinamisnya tarian ini. Tari ini merupakan tari kreasi yang diangkat dari Dingkula. Selain gerakannya, tarian ini mempunyai keunikan pada pakaian dan aksesorisnya.
Tari Lenso adalah tari tradisional yang berasal dari Sulawesi Utara yang merupakan tarian tradisi yang dikreasikan dan mengkisahkan tentang tata pergaulan muda mudi masyarakat Minahasa yang mana pada umumnya gadis-gadis Minahasa dalam mencari pria yang akan menjadi pasangan hidupnya sangat selektif dimana pria yang diidamkannya harus memiliki semangat bekerja yang baik, berwibawa, memiliki tata kerama yang baik karena para gadis Minahasa meyakini bahwa pilihannya itu pasti dan senantiasa dapat memenuhi harapan di hari tua.
Lenso merupakan bahasa Sulawesi Utara yang berarti Saputangan. Tari Lenso ini merupakan ajang Pencarian jodoh bagi mereka yang masih bujang/gadis, dimana ketika lenso atau selendang diterima merupakan tanda cinta diterima. Tari Lenso ini dilakukan secara beramai-ramai, biasanya pada acara pesta seperti pesta pernikahan, pesta tahun baru dan pesta panen cengkeh.
Tari Lenso diiringi oleh musik pengiring dengan alat musik tradisional Sulawesi Utara antara lain :
Tambur Minahasa
Suling
Musik Kolintang
Tetengkoren
Momongan
Kostum yang dikenakan dalam tarian ini sangat beragam baik model dan warnanya. Umumnya mengenakan rok panjang lebar di bagian bawahnya dan atasan tangan panjang nampak seperti kebaya. Gerakan Tari Lenso tidak terlalu rumit bahkan terlihat sederhana namun keserhanaan itulah yang menjadikan tarian ini istimewa karena mudah ditarikan oleh siapa saja.
2. Tari Tatengesan
Tari Tatengesan merupakan tarian tradisional khas daerah Sulawesi Utara yang berasal dari Minahasa yang diangkat dari ceritera rakyat tentang desa Tatengesa.
Tari Tatengesan mengisahkan tentang perjuangan masyarakat desa ketika melawan para bajak laut Mindanou yang datang dari perairan Filipina. Bajak laut tersebut sering mengganggu aktifitas masyarakat sehingga semangat untuk melawan para bajak laut dikobarkan melalui syair dan lagu Kiting-kiting.
Tari Tatengesan pertama kali ditampilkan pada tahun 1983 dalam rangka memperingati terbentuknya desa Tatengesan di yang sekarang ini telah berada di daerah pemerintahan kabupaten Minahasa tenggara.
Tari Tatengesan biasanya dilakukan oleh 9 orang penari atau lebih dengan diiringi musik yang berasal dari alat musik tradisional Sulawesi Utara antara lain :
Musik Kolintang
Tambur
Suling bambu
Tetengkoren
Momongan
Tari Tatengesan (seputarsulut.com)
3. Tari Mane'e
Tari Mane'e adalah tarian tradisional yang berasal dari Maluku Utara atau tepatnya berasal dari Talaud. Tarian ini diangkat dari salah satu tradisi masyarakat Talaud dalam menangkap ikan, yaitu sebuah tradisi menangkap ikan secara bersama-sama.
Kata mane’e berasal dari kata ”See yang artinya Ya” atau setuju/sepakat, sehingga kata Mane’e diartikan ” Penangkapan ikan secara tradisional melalui masyarakat yang bermusyawarah dan bermufakat untuk menangkap ikan secara bersama – sama.
Tradisi ini muncul sekitar abad ke 12 di lingkungan masyarakat kepulauan ”Nanusa”, yang sampai sekarang ini masih dilaksanakan bahkan telah menjadi agenda tetap prosesi Mane’e di Kabupaten Talaud.
Tari Mane'e dilakukan dengan menampilkan 10 tema tarian yaitu :
Mengotom Para artinya bermohon kepada Tuhan agar memperoleh hasil yang banyak
Matuda Sammy artinya menuju tempat penangkapan ikan
Manabbi’e Sammi artinya pembuatan alat penangkapan ikan dari janus
Mamotte Sammi artinya Penebaran Janur
Manolekke Sammi artinya Penarikan Janur
Mamattae Inna artinya Penombakan Ikan
Manganute Inna artinya Pengambilan Ikan
Matahiate Inna artinya Pembagian Ikan
Mapurette Suwanua artinya Kembali ke Kampung
Manarim’ma Alana U Mawu artinya Penerimaan berkat melalui ucapan syukur.
Tari Mane’e ditarikan kecara berkelompok pria dan wanita dengan musik pengiring berasal dari alat musik tradisional Sulawesi Utara seperti Suling, Tagonggong, tambur dan alat musik bambu.
Tari Balumpa adalah tarian tradisional yang berasal dari daerah Wakatobi, yaitu Binongko, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Tari Balumpa dari Sulawesi Tenggara ini biasanya dimainkan oleh 6-8 orang penari, yang dilakukan secara berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Akan tetapi bisa juga dilakukan oleh pasangan penari perempuan semua.
Tarian ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti penyambutan tamu penting, pertunjukan seni, dan festival budaya.
Para penari Balumpa menggunakan pakaian adat Wakatobi dengan iringan musik yang mempergunakan alat musik tradisional gambus, gendang juga suara dendang biduan Balumpa.
Tari Galangi adalah tarian tradisional yang berasal dari Kepulauan Buton Raya Provinsi Sulawesi Tenggara.
Tari Galangi merupakan Tari Perang dalam Kerajaan/ Kesultanan Buton.
Tari Galangi adalah ungkapan dan spontanitas gerakan dalam bentuk tari yang mewujudkan bagaimana penggunaan gala dalam menghadapi musuh.
Di waktu damai tari ini merupakan kelengkapan kebesaran, keagungan serta kemulian Sultan.
Tari ini dimainkan untuk mengiringi Sultan pada saat keluar istana dalam suatu tugas atau menyambut dan mengantar tamu Kesultanan.
Tarian Galangi ini terdiri dari sebelas kelompok, tiap kelompok terdiri dari tujuh orang. Pada zaman dahulu kelompok tersebut bertugas untuk mempertahankan Kerajaan/ Kesultanan bila ada serangan dari luar.
Bila dalam keadaan aman, masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda-beda.
Busana yang dipergunakan oleh para penari Galangi adalah Pakaian Sala Kaitela (Celana Puntung). adapun perlengkapan yang mereka bawa antara lain Gala (Tombak), Tombi Male’i (Bendera Merah), Tombi Makuni (Bendera Kuning) dan Tamburu (Genderang).
Tari Malulo atau Lulo adalah tari tradisional yang berasal dari daerah Tolaki, Sulawesi Tenggara.
Tarian tradisional Malulo disebut juga sebagai tarian persahabatan.
Pada zaman dulu, tarian ini dilakukan pada upacara-upacara adat, seperti, pernikahan, pesta panen raya, dan upacara pelantikan raja yang diiringi oleh alat musik pukul, yaitu, gong.
Tarian ini dilakukan oleh pria, wanita, remaja, dan anak-anak yang saling berpegangan tangan, menari mengikuti irama gong sambil membentuk sebuah lingkaran.
Filosofi Tarian malulo ini adalah persahabatan yang biasa ditujukan kepada muda-mudi Suku Tolaki sebagai ajang perkenalan, mencari jodoh, dan mempererat tali persaudaraan.
Tarian Tradisional Malulo ini dilakukan dengan posisi saling bergandengan tangan dan membentuk sebuah lingkaran.
Peserta tarian tidak dibatasi oleh usia maupun golongan, siapa saja boleh ikut serta dalam Tarian Malulo.
Dalam tarian ini yang perlu perlu diperhatikan adalah posisi tangan saat bergandengan, untuk pria posisi telapak tangan di bawah menopang tangan wanita.
Posisi tangan ini merupakan simbolisasi dari kedudukan, peran, etika pria dan wanita dalam kehidupan.
Tarian Malulo mencerminkan bahwa masyarakat Tolaki adalah masyarakat yang cinta damai dan mengutamakan persahabatan dan persatuan dalam menjalani kehidupannya.
Tari Mangaru adalah tari tradisional yang berasal dari Desa Konde Kecamatan Kambowa Kabupaten Buton Utara.
Tari Mangaru menggambarkan keberanian laki-laki pada zaman dahulu dalam medan peperangan, yaitu bercerita tentang dua orang laki-laki yang sedang dalam medan peperangan.
Para penari memperagakan gerakan-gerakan yang memperlihatkan bagaimana kedua laki-laki yang saling beradu kekuatan dengan menggunakan sebilah keris yang dipegang.
Tari Mangaru diiringi oleh alat musik tradisional Sulawesi Tenggara yaitu kansi-kansi, Mbololo (gong) dan dua buah gendang yang terbuat dari kulit binatang. Musik yang mengiringi tarian ini bertempo cepat sesuai dengan semangat para penarinya.
Alat musik tradisional ini dimainkan empat orang yang memang mahir dalam memainkannya.
Irama musik pengiring tari ini berbeda dengan musik pengiring tari yang lain walaupaun alat yang digunakan sama.
Tari Mangaru biasanya dipertunjukan dalam berbagai upacara dan acara-acara yang melibatkan banyak orang.
Bagi masyarakat Desa konde menyelenggarakan pesta panen setelah menuai padi menjadi suatu budaya yang berkesinambungan dan pada acara khitanan.
Tarian ini menjadi ajang berkumpul semua orang kampung.
Namun sayang, tarian ini sudah jarang bahkan sudah tidak pernah dipentaskan lagi. Saat ini tari Mangaru dipertunjukan pada saat penyambutan tamu.
Tari Mangaru pada saat ini banyak mengalami perubahan dan kreasi, namun tetap mempertahankan gerakan dasar perang sebagai ajang hiburan dan penyemangat.
Tari Lumense
Sumber : travelblog.ticktab.com
Tari Lumense adalah tarian yang berasal dari Tokotu’a, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Kata lumense sendiri berasal dari bahasa daerah setempat yakni lume yang berarti terbang dan mense yang berarti tinggi. Jadi, lumense bisa diartikan terbang tinggi.
Tari lumense sendiri berasal dari kecamatan Kabaena. Suku Moronene merupakan penduduk asli dari wilayah ini.
Tarian ini biasa dipertunjukkan untuk menyambut tamu pada pesta-pesta, khususnya dalam acara pesta rakyat.
Jumlah Penari biasanya ada dua belas orang wanita, sehingga tari ini merupakan tarian kelompok besar wanita. Dari dua belas orang penari tersebut, enam diantaranya akan menjadi laki-laki dan sebagian lainnya menjadi perempuan.
Semua penari akan mengenakan busana adat Kabaena.
Bagi yang berperan sebagai wanita, mereka akan mengenakan taincombo. Taincombo adalah nama baju adat Kabean yang bercorak rok merah marun dengan atasan baju hitam dan bawahan baju berbentuk ikan duyung.
Sedangkan untuk penari yang berperan sebagai laki-laki akan mengenakan taincombo yang disatukan dengan selendang merah, dengan korobi (sarung parang dari kayu) yang dipasang di pinggang bagian kiri.
Tari Kalegoa
Sumber : greatbuton.blogspot.co.id
Tarian ini adalah suatu tari tradisional yang menggambarkan suka duka gadis-gadis Buton sewaktu dalam pingitan.
Sudah menjadi suatu tradisi sejak zaman lampau seorang gadis yang menjelang dewasa haruslah menjalani masa Pingitan / Posuo. Selama 8 (delapan) hari 8 (delapan) malam.
Posuo sebagai suatu arena tempaan adat bagi mereka yang diikat dengan aturan dan tata krama serta sopan santun yang ketat untuk meninggalkan masa kegadisan bebas dan gembira karena telah dewasa dalam tempaan serta siap menerima kenyataan hidup. https://upiepamulasriblog.wordpress.com/2016/04/13/tarian-tradisional-dari-provinsi-sulawesi-tenggara/
1. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Piso Surit.
Piso Surit adalah salah satu lagu, syair, serta tarian Suku Karo yang menggambarkan seorang pria yang sedang menantikan kedatangan kekasihnya. Penantian tersebut sangat lama dan menyedihkan dan digambarkan seperti burung pincala (burung yang berekor panjang dan pandai bernyanyi) yang sedang memanggil-manggil.
Lagu Piso Surit karya Djaga Depari dalam bahasa Karo, dengan lagu yang bernuansa tradisional Karo k berkembang (dibuatkan) tariannya yang dikenal dengan tarian Piso Surit. Dan berikut cuplikan tari tradisional karo Sumatera Utara - Piso Surit :
2. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Gundala - Gundala
Tari Gundala - Gundala adalah sebuah tari tradisional yang masih dilakukan oleh masyarakat di Desa Seberaya Tanah Karo. Tarian Gundala - Gundala ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu sebagai kostumnya. Tari Gundala-Gundala ini dilakukan untuk mendatangkan hujan.
3. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Baka
Tari Baka merupakan tarian tradisional masyarakat suku Karo. Tarian ini menggambarkan seorang paranormal / orang pintar yang sedang menyembuhkan orang sakit. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang karo pada zaman dahulu, masyarakat di dataran tinggi Karo masih mengandalkan orang pintar atau paranormal. Hampir semua masalah yang ada disampaikan kepada orang pintar atau paranormal. Khususnya untuk masalah penyakit, masyarakat akan membawanya kepada orang pintar untuk disembuhkan. Dalam proses penyembuhannya orang pintar atau paranormal menggunakan sebuah keranjang dan mangkok khusus untuk tempat ramuan-ramuan obat.
4. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Tongkat
Tari Tradisional dari Tanah Karo yang satu ini menggambarkan kepercayaan orang Karo akan adanya roh halus, masyarakat Karo masih mempercayai adanya kekuatan gaib dan roh halus yang akan mendatangkan hal yang negatif pada kehidupan manusia. Dalam beberapa kegiatan kebudayaan, manusia yang memiliki ilmu gaib masih berperan penting untuk berhubungan dengan roh-roh halus. Tari Tongkat ini menggambarkan bagaimana manusia yang memiliki ilmu gaib ini mengusir roh-roh jahat yang masuk ke suatu tempat di pedesaan. Manusia tersebut menggunakan sebuah tongkat khusus yang disebut tongkat malaikat dan tongkat panaluan.
5. Tari Tradisional Karo Sumatera Utara - Tari Ndikkar
Tari Ndikkar lebih dikenal sebagai tarian bela diri atau pecak silat ala Tanah Karo Sumatera Utara. Ndikkar adalah bentuk pertahanan diri tradisional Karo atau Pencak Silat yang tumbuh dan berkembang bersama-sama dengan kebudayaan masyarakat Karo. Ndikkar memiliki ciri-ciri : gerakan yang sangat lambat dan lembut tetapi di saat-saat tertentu gerakan tarian ini akan terlihat keras dan cepat. Khususnya masyarakat Karo, mereka mempelajari Pencak Silat hanya untuk pertahanan diri sendiri Pada saat ini Ndikkar lebih banyak berfungsi sebagai sarana hiburan masyarakat.
1. Pencak Silat Pencak silat atau silat adalah suatu seni bela diri tradisional yang berasal dari Indonesia. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura, Filipina selatan, dan Thailand selatan seusai dengan penyebaran berbagai suku bangsa Nusantara.
2. Wayang Golek Wayang Golek adalah suatu seni tradisional sunda pertunjukan wayang yang terbuat dari boneka kayu, yang terutama sangat populer di wilayah Tanah Pasundan. Daerah penyebarannya terbentang luas dari Cirebon di sebelah timur sampai wilayah Banten di sebelah barat, bahkan di daerah Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Barat sering pula dipertunjukkan pergelaran Wayang Golek.
3. Ketuk Tilu Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan cikal bakal Jaipongan yang berasal dari Jawa Barat dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggarakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Istilah ketuk tilu diambil dari alat musik pengiringnya, yaitu 3 buah ketuk (bonang) yang memberi pola irama rebab, kendang (gendang) indung (besar) dan kulanter (kecil) untuk mengatur dinamika tari/kendang yang diiringi kecrek dan goong. Dahulu, ketuk tilu adalah upacara menyambut panen padi sebagai rasa terima kasih kepada Dewi Sri. Upacara ini dilakukan pada waktu malam hari, dengan mengarak seorang gadis diiringi bunyi-bunyian yang berhenti di tempat luas. Sekarang, ketuk tilu menjadi tarian pergaulan dan hiburan, biasanya diselenggarakan pada pesta perkawinan, hiburan penutup suatu kegiatan, atau digelar pada acara-acara khusus. Di desa-desa tertentu, pertunjukan tari ketuk tilu sering dilakukan semalaman suntuk. Kostum yang dipakai penari wanita ketuk tilu adalah kebaya, sinjang (celana panjang) sabuk, dan beragam aksesoris, seperti gelang dan kalung. Sedangkan untuk penari pria, mengenakan baju kampret warna gelap, celana pangsi, ikat kepala, dan sabuk kulit.
4. Tari Ronggeng Tari Ronggeng adalah jenis kesenian tari yang berkembang di Tatar Pasundan atau Jawa di mana pasangan saling bertukar ayat-ayat puitis saat mereka menari diiringi musik dari rebab atau biola dan gong. Ronggeng mungkin berasal dari Jawa, tetapi juga dapat ditemukan di Sumatera dan Semenanjung Malaya.
5. Tari Topeng Cirebon Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut tari topeng, karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada pementasan tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter topeng-topeng tersebut. Tari topeng ini sendiri banyak sekali ragamnya dan mengalami perkembangan dalam hal gerakan, maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh satu penari tarian solo, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.
6. Tari Wayang Tari Wayang yaitu salah satu kelompok atau genre tari yang latar belakangnya dari cerita wayang. Tari ini tumbuh mekar di wilayah Jawa Barat, dan menjadi salah satu tarian tradisional Jawa Barat. Tari wayang yaitu tari yang mengambil gerak dasarnya dan gerak intinya dari penokohan wayang. Tari wayang biasanya menggambarkan penokohan dan jabatan dalam cerita wayang.
7. Tari Keurseus Tari Keurseus yaitu kelompok tari yang merupakan hasil proses perkembangan dari gerak-gerak tari Tayuban. Tayub itu sendiri yaitu kata pekerjaan menarinya laki-laki yang dikain dan dibendo, dibaju bagus bagus menghadapi beberapa orang ronggeng.